اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ “Sesiapa bersolat pada malam Ramadan dengan keimanan sebenar dan mengharapkan ganjaran (daripada Allah), diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” – Hadis riwayat Imam Muslim

Sunday, 3 February 2013

Doa Ketika Makan (Dhaif)


PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum warahamtullahi wabarakatuh
Adakah Hadis tentang do'a makan : ialah hadis yang dhaif (lemah) ?

Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinna'adzaabannar.


JAWAPAN :

Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu

Doa yang ditanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibn As Sunni dalam kitab beliau ‘Amal Al Yaum wa Al Lailah dengan sanad dan matan berikut :

قال ابن السني حدثني فضل بن سليمان ، ثنا هِشامُ بنُ عمّارٍ ، ثنا مُحمّد بن عِيسى بنِ سُميعٍ ، ثنا مُحمّدِ بنِ أبِي الزُّعيزِعةِ ، عن عَمرِو بنِ شُعيبٍ ، عن أبِيهِ ، عن جده عَبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو ، رضي الله عنهما ، عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، أنّهُ كان يقُولُ فِي الطّعامِ إِذا قُرِّب إِليهِ : « اللّهُمّ بارِك لنا فِيما رزقتنا ، وقِنا عذاب النّارِ ، بِاسمِ اللهِ »

Ibn As Sunni berkata Fadhl bin Sulaiman menceritakan kepadaku bahwa Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami bahwa Muhammad bin Isa bin Sumai’ menceritakan kepada kami bahwa Muhammad bin Abi Zu’aiza’ah menceritakan kepada kami dari Amr bin Syua'ib dari bapanya Syua’ib dari abangnya Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiyallohu anhuma dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam adalah beliau membaca pada saat makanan didekatkan ke baginda, 

Allahumma Baarik Lanaa Fiimaa Razaqtanaa wa Qinaa ‘Adzaaban Naar, Bismillah” 

(“Ya Allah berkahilah apa yang Engkau rezkikan kepada kami dan
jauhkanlah dari kami siksa neraka, dengan menyebut nama Allah”)


Rangkaian Sanad :
1. Nabi Muhammad SAW
2. Abdullah bin Amr bin Al'Ash r.a
3. Syua'ib
4. Amr bin Syua'ib
5. Muhammad bin Abi Zu'aiza'ah
6. Muhammad bin Isa bin Sumai'
7. Hisyam bin Ammar
8. Fadhl bin Sulaiman
9. Ibn As Sunni

Dalam rangkaian sanad di atas terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Abu Zu’aizi’ah dan dia telah dilemahkan oleh para ulama hadits.



Antara para ulama yang menerangkan kelemahannya :

1. Imam Bukhari (wafat 256 H) dalam kitabnya At Tarikh Al Kabir (1/88) mengatakan tentang perawi ini, 

“Haditsnya sangat mungkar dan tidak berhak ditulis”


2. Imam Ibn Abi Hatim Ar Rozi (wafat tahun 327 H) dalam kitabnya ‘Ilal Al Hadits beliau berkata,

“Aku bertanya kepada ayahku (Imam Abu Hatim-wafat tahun 277 H) tentang hadits ini lalu beliau menjawab “Hadits ini tidak diperhitungkan; di sanadnya terdapat Ibnu Abi Zu’aizi’ah dan tidak boleh menyibukkan diri dengannya karena haditsnya mungkar” (lihat juga Al Jarh wa At Ta’dil 7/261)


3. Imam Ibnu Hibban Al Busti (wafat 354 H ) dalam kitab beliau Al Majruhin berkata,

“Muhammad bin Abi Zu’aizi’ah termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari perawi-perawi yang terkenal hingga jika riwayat-riwayat tersebut didengarkan oleh para ahli hadits mereka akan tahu bahwa hadits-haditsnya terbalik dan tidak boleh berhujjah dengannya”.


4. Imam Abu Nu’aim Al Ashfahani (wafat 430 H) dalam kitabnya Adh Dhu’afa (1/143) berkata, 

“Muhammad bin Abi Zu’aizi’ah telah meriwayatkan di wilayah Syam dari Nafi’ dan Ibnu Munkadir hadits-hadits yang mungkar”


5. Al Hafizh Muhammad bin Thohir Al Maqdisi (wafat 507 H) dalam Dzakhiroh Al Huffaz berkata 

“Muhammad bin Isa bin Suma’i dan Muhammad bin Abi Zu’aizi’ah adalah dua perawi yang lemah”. 

Di kitab beliau Ma’rifah At Tadzkiroh dil Ahadits Al Maudhu’ah beliau mengatakan 

“Ibn Abi Zu’aizi’ah adalah dhoif, haditsnya mungkar,
dajjal (pendusta besar) dan tidak berhak dijadikan hujjah”



Kesimpulan :

· Dari penjelasan beberapa ulama Al Jarh wa At Ta’dil di atas diketahui bahwa sanad hadits ini lemah kerana Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah seorang perawi yang dilemahkan oleh kebanyakan ulama' hadis. Begitu juga dengan Muhammad bin Isa bin Suma’i yang juga dilemahkan oleh Al Hafizh Ibnu Thohir Al Maqdisi.

· Setelah kita mengetahui kelemahan hadits ini maka sepatutnya kita mengamalkan doa yang berasal dari hadits yang sahih (benar) ketika makan iaitu ucapan “Bismillah”, berdasarkan banyak riwayat yang sahih diantaranya :

1. Umar bin Abi Salamah menceritakan,

Aku dahulu sewaktu kecil di bawah bimbingan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, sewaktu aku makan tanganku bergerak ke seluruh sisi dari piring besar yang kami gunakan, lalu Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda,

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat darimu” . Umar bin Abi Salamah berkata sejak saat itu begitulah tata cara
ketika aku makan (sesuai dengan perintah Nabi shallallohu alaihi wasallam)
(HR. Bukhari dan Muslim)


2. Dari Aisyah radhiyallohu anha bahwasanya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang diantara kalian makan maka ucapkanlah nama Allah Ta’ala, jika lupa membacanya pada permulaan makan maka bacalah (saat teringat),
Bismillah awwalahu wa aakhirahu’ (Bismillah awal dan akhirnya)
[ HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah ]



Rujukan :


.: Mengamalkan hadis dhaif tidak berdosa besar, namun apabila kita sudah tahu ada hadis sahih,
tidak perlu mengamalkan hadis dhaif.  ^^,  :.

.:Waktu yang tinggal:.


Get your own Digital Clock